FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA GERAKAN RADIKALISME


Gerakan radikalisme sesungguhnya bukan sebuah gerakan yang muncul begitu saja tetapi memiliki latar belakang yang sekaligus menjadi faktor pendorong munculnya gerakan radikalisme. Diantara faktor-faktor itu adalah :
Kapitalisme Global Dan Problem Kemiskinan
Sistem kapitalisme yang sampai hari ini berkuasa berhasil menciptakan kesejahteraan dengan kemajuan tingkat produktivitas dan kecanggihan teknologi yang semakin tinggi. Sebagai sistem ekonomi, kapitalisme yang diterapkan dunia Barat dinilai merusak dasar-dasar kebudayaan dan menyingkirkan mereka yang lemah secara ekonomi, di samping mampu berkuasa secara politik di level kebijakan negara. Ketidakberdayaan umat Islam terhadap hegemoni ekonomi kapitalisme Barat menyebabkan sebagian umat Islam melakukan resistensi.
Pemahaman agama
Radikalisme di sebagian masyarakat bisa muncul karena banyak hal. Salah satunya adalah karena
lemahnya pemahaman agama. Radikalisme ini merupakan sasaran yang tepat  bagi orang-orang yang bertujuan menyelewengkan ajaran agama atau mengajarkan paham-paham keagamaan yang sesat. "Umat yang lemah dari segi pemahaman biasanya mudah tergiur dengan bujukan material untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama. Termasuk tindakan redikalisme," ujar Menag Maftuh Basyuni. Selain itu, masyarakat yang memiliki pengetahuan agama yang lemah dari segi pengamalan perlu diberi sentuhan-sentuhan tasawuf atau penjelasan tentang himatut tasyri'. Sentuhan tersebut dapat mendorong  untuk memahami esensi dari perintah dan larangan agama secara lebih luas. Dari berbagai hasil penelitian,  pengikut
tarekat memiliki tingkat kesadaran menjalankan ibadah yang tinggi dan menampakan kesadaran moral yang tinggi pula. Kondisi itu merupakan suatu bentuk sumbangan yang berharga dalam rangka membangun moral bangsa secara umum. Komitmen komunitas penganut tarekat seperti ini diharapkan senantiasa menjadi contoh penegakan nilai-nilai moral keagamaan dan penghayatan spiritual sehingga tanggung jawab ulama ke depan semakin berat sebab masyarakat saat ini semakin terbuka terhadap pengaruh dari luar akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Peran ulama di lingkungan ponpes juga perlu dipertahankan.   
Selain itu, meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Telah menjadi rahasia umum bahwa radikalisme Islam (dan juga dalam agama-agama lain) lebih sering dimotivasi oleh persoalan-persoalan ekonomi ketimbang masalah agama. Peningkatan kesejahteraan bisa diartikan dengan pemberdayaan ekonomi kerakyatan, peningkatan lapangan kerja, dan pemerataan pendapatan. Untuk mewujudkan semua itu dapat dilakukan, misalnya, dengan memberikan kredit lunak kepada rakyat kecil, reoptimalisasi koperasi, peningkatan industri agraris, dan memberikan pelatihan-pelatihan kerja.
Sosial Politik


Gejala kekerasan “agama” lebih tepat dilihat sebagai gejala sosial-politik daripada gejala keagamaan. Gerakan yang secara salah kaparah oleh Barat disebut sebagai radikalisme Islam itu lebih tepat dilihat akar permasalahannyadari sudut konteks sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia yang ada di masyarakat. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra 11 bahwa memburuknya posisi negara-negara Muslim dalam konflik utara-selatan menjadi penopong utama munculnya radikalisme. Secara historis kita dapat melihat bahwa konflik-konflik yang ditimbulkan oleh kalangan radikal dengan seperangkat alat kekerasannya dalam menentang dan membenturkan diri dengan kelompok lain ternyata lebih berakar pada masalah sosial-politik. Dalam hal ini kaum radikalisme memandang fakta historis bahwa umat Islam tidak diuntungkan oleh peradaban global sehingga menimbulkan perlawanan terhadap kekuatan yang mendominasi. Dengan membawa bahasa dan simbol serta slogan-slogan agama kaum radikalis mencoba menyentuh emosi keagamaan dan mengggalang kekuatan untuk mencapai tujuan “mulia” dari politiknya. Tentu saja hal yang demikian ini tidak selamanya dapat disebut memanipulasi agama karena sebagian perilaku mereka berakar pada interpretasi agama dalam melihat fenomena historis. Karena dilihatnya terjadi banyak penyimpangan dan ketimpangan sosial yang merugikan komunitas Muslim maka terjadilah gerakan radikalisme yang ditopang oleh sentimen dan emosi keagamaan.
Emosi Keagamaan
Harus diakui bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan sebagai faktor emosi keagamaannya, dan bukan agama (wahyu suci yang absolut) walalupun gerakan radikalisme selalu mengibarkan bendera dan simbol agama seperti dalih membela agama, jihad dan mati stahid. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan emosi keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas yang sifatnya interpretatif. Jadi sifatnya nisbi dan subjektif.
Ada sebagian kalangan yang memahami bahwa apa yang dipahaminya merupakan hal yang paling benar. Mereka menganggap bahwa kelompok atau golongannya yang paling benarsendiri. Sementara orang lain yang tak memiliki pandangan yang sama dengannya dinyatakan salah. Mestinya, adanya perbedaan yang muncul di tengah-tengah kehidupan kita
dapat diselesaikan dengan melakukan komunikasi dan dialog. Bukannya mengedepankan penyelesaian yang melibatkan kekerasan. Kita mestinya menarik teladan dari tokoh-tokoh Islam terdahulu, seperti Mohamad Natsir, yang meski berbeda pandang dengan tokoh lainnya, namun tetap mengedepankan dialog dan tetap saling menghormati di antara mereka. Mereka memberikan contoh yang bijak dalam menghadapi perbedaan yang ada.
Faktor Kultural
Ini juga memiliki andil yang cukup besar yang melatarbelakangi munculnya radikalisme. Hal ini wajar karena memang secara kultural, sebagaimana diungkapkan Musa Asy’ari 12 bahwa di dalam masyarakat selalu diketemukan usaha untuk melepaskan diri dari jeratan jaring-jaring kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai. Sedangkan yang dimaksud faktor kultural di sini adalah sebagai anti tesa terhadap budaya sekularisme. Budaya Barat merupakan sumber sekularisme yang dianggab sebagai musuh yang harus dihilangkan dari bummi. Sedangkan fakta sejarah memperlihatkan adanya dominasi Barat dari berbagai aspeknya atas negeri-negeri dan budaya Muslim. Peradaban barat sekarang ini merupakan ekspresi dominan dan universal umat manusia. Barat telah dengan sengaja melakukan proses marjinalisasi selurh sendi-sendi kehidupan Muslim sehingga umat Islam menjadi terbelakang dan tertindas. Barat, dengan sekularismenya, sudah dianggap sebagai bangsa yang mengotori budaya-budaya bangsa Timur dan Islam, juga dianggap bahaya terbesar dari keberlangsungan moralitas Islam.
Faktor Ideologis Anti Westernisme
Westernisme merupakan suatu pemikiran yang membahayakan Muslim dalam mengapplikasikan syari’at Islam. Sehingga simbol-simbol Barat harus dihancurkan demi penegakan syarri’at Islam. Walaupun motivasi dan gerakan anti Barat tidak bisa disalahkan dengan alasan keyakinan keagamaan tetapi jalan kekerasan yang ditempuh kaum radikalisme justru menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam memposisikan diri sebagai pesaing dalam budaya dan peradaban.
Kebijakan Pemerintah
Ketidakmampuan pemerintahn di negara-negara Islam untuk bertindak memperbaiki situasi atas berkembangnya frustasi dan kemarahan sebagian umat Islam disebabkan dominasi ideologi, militer maupun ekonomi dari negera-negara besar. Dalam hal ini elit-elit pemerintah di negeri-negeri Muslim belum atau kurang dapat mencari akar yang menjadi penyebab munculnya tindak kekerasan (radikalisme) sehingga tidak dapat mengatasi problematika sosial yang dihadapi umat. Di samping itu, faktor media massa (pers) Barat yang selalu memojokkan umat Islam juga menjadi faktor munculnya reaksi dengan kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam. Propaganda-propaganda lewat pers memang memiliki kekuatan dahsyat dan sangat sulit untuk ditangkis sehingga sebagian “ekstrim” yaitu perilaku radikal sebagai reaksi atas apa yang ditimpakan kepada komunitas Muslim.

Upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam      gerakan radikalisme agama
            Radikalisme mempunyai kecenderungan untuk membenci orang dengan menghancurkan kelompok lain. Dimana semangat tersebut tidak sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang sangat mengagngkan indahnya perbedaan. Jadi, perlu ada upaya penanaman kembali nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika kepada masyarakat kita. Ilmu dasar keluarga adalah cara awal untuk mencegah masuknya radikalisme dalam masyarakat. Pemerintah baru sebatas mengatasi aksi radikalisme saja,belum ada upaya maksimal dari pemerintah untuk mencegah radikalisme. Mengatasi radikalisme agama tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Semua komponen bangsa harus terlibat. Akan tetapi selama ini belum ada kejelasan yang pasti tentang kebijakan pemerintah dalam menanggulangi radikalisme agama yang sekarang ini telah berkembang di lapisan masyarakat.
            Contoh radikalisme adalah berkembangnya terorisme yang ada di indonesia itu sendiri. Aksi teroris tersebut mengatasnamakan jihad kepada Allah. Akan tetapi semua itu dipandang salah oleh masyarakat banyak karena aksi tersebut merugikan orang lain. Adapun program pemerintah dalam menangani terorisme tersebut dengan mencanangkan program jangka pendek dan jangka panjang. Diantaranya,
Program jangka pendek
1. Untuk mewujudkan kesamaan persepsi bangsa tentang Terorisme.
a) Pemerintah dengan tegas segera mengeluarkan statement secara resmi dalam rangka menghadapi Terorisme di Indonesia seperti “Pernyataan perang melawan Segala bentuk ancaman Terorisme di dunia.
b) Pemerintah melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang bahaya ancaman Terorisme di Indonesia.
c) Pemerintah melakukan pemekaran daerah di beberapa propinsi untuk mempermudah pengawasan.
2.  Untuk membentuk kepribadian komponen bangsa yang pancasilais, diupayakan melalui:
a) Edukasi formal, sejak dini mulai dan pendidikan pra sekolah hingga Perguruan Tinggi
b) Edukasi non formal, melalui kegiatan penyuluhan dan sosialisasi
3. Untuk membentuk jiwa nasionalisme diupayakan melalui kegiatan:
a) Pendidikan formal, harus dilakukan oleh Pemerintah terhadap masyarakat sejak pra sekolah sampai Perguruan Tinggi
b) Pendidikan non formal, Pemerintah melakukan kegiatan penyuluhan dan sosialisasi.
4.  Untuk mewujudkan Disiplin Nasional diupayakan melalui:
a) Pendidikan formal, harus dilakukan pemerintah dengan memberikan muatan materi pengetahuan pada kurikulum pendidikan meliputi mata pelajaran Kewarganegaraan, Kewiraan, Tata Krama dan Budi Pekerti sesuai dengan tingkat pendidikan mulai dan tingkat pendidikan dasar sampai dengan universitas
b) Pendidikan non formal, dilakukan oleh pemerintah dengan melaksanakan kegiatan penyuluhan dan sosialisasi dengan materi penyajian tentang Peraturan Perundang-Undangan
Program jangka panjang                                            
1.     Untuk memelihara dan meningkatkan keberanian komponen bangsa, diupayakan melalui kegiatan:
a) Sosialisasi tentang bahaya dan ancaman Terorisme
b) Melakukan dialog interaktif dan komunikasi secara intensif
2.     Untuk membentuk komitmen yang kuat bagi segenap komponen bangsa, diupayakan melalui kegiatan:
a) Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang prosedur pencegahan dan penindakan dini
b) Menyelenggarakan pelatihan pencegahan dan penindakan dini
c) Membangun kesadaran akan tanggung jawab dan komitmen bersama.
d) Melakukan pengawasan dan pengaturan kegiatan
e) Meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan semua komponen bangsa
f) Menghilangkan faktor-faktor korelatif penyebab yang dapat dieksploitasi
g) Meningkatkan pengamanan dan pengawasan
h) Melakukan pengetatan pemberian dokumen
i) Melaksanakan penertiban administrasi
3.    Mewujudkan perangkat nasional yang mampu menjalankan fungsi dan peranannya dengan melakukan refungsionalisasi dan revitalisasi.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA GERAKAN RADIKALISME"

Poskan Komentar